Resign, Pindah ke Tempat Baru, dan Memutuskan Kembali ke Tempat Lama

C. Ronaldo & Lukaku kembali ke klub lama mereka, source: https://www.premierleague.com/news/2256892

Titik jenuh, sepertinya itu adalah kata-kata yang dapat menggambarkan diri saya ketika akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri setelah 3 setengah tahun bekerja untuk sebuah perusahaan yang sebenernya cukup nyaman bagi saya bekerja di sana.

Namun seperti halnya Cristiano Ronaldo dan Romelu Lukaku yang kembali ke klub lama-nya. Saya pun pada akhirnya juga melakukan hal yang sama.

Mencari Tantangan Baru

https://unsplash.com/photos/KZcWygxZ_J4

Kestabilan waktu, benefit kesehatan yang sangat bagus, kepedulian perusahaan terhadap karyawan di berbagai aspek, bonus tahunan dan THR, teman-teman yang sudah sangat akrab, kebanggaan akan nama besar dan dampak sosial perusahaan terhadap masyarakat, dan masih banyak lagi hal positif lain tentang bekerja di perusahaan tersebut, ternyata tidak cukup membuat saya berhenti untuk memikirkan “Mencari Tantangan Baru”.

Ya “Mencari Tantangan Baru” sebuah frasa klise yang mungkin sering kalian dengar di lingkungan perusahaan rintisan. Dan terjadilah akhir Mei 2021 saya resmi keluar dari perusahaan tersebut dan menerima kesempatan bekerja secara remote di salah satu perusahaan rintisan Singapura.

Banyak faktor kenapa akhirnya saya memilih bergabung ke perusahaan tersebut. Sudah sejak lama saya mendambakan bekerja di perusahaan luar negeri secara remote. Luar Negeri, bagi sebagian orang mungkin hal yang biasa saja, tapi bagi saya yang adalah seorang anak kampung, itu adalah kesempatan untuk mencari pengalaman.

Selain soal mencari pengalaman, saya juga melihat sosok hebat di perusahaan tersebut, dimana perusahaan tersebut didirikan oleh seseorang yang sangat ahli dan mempunya reputasi sangat bagus di bidangnya di lingkup Global. Saya berharap bisa belajar banyak dari beliau. Sebut saja dia Mr. I.

Perusahaan ini juga bergerak di bidang yang sangat menarik Ed-tech dengan berfokus pada pelatihan keterampilan profesional di Industri yang sangat seksi. Penawaran gaji juga buat saya saat itu cukup menarik.

Tidak Sesuai Ekspektasi

https://unsplash.com/photos/6SNbWyFwuhk

2 3 pekan awal saya merasa cukup nyaman, saya menyukai produk-nya, saya menikmati aktivitas bekerja, saya mengembangkan sebuah interactive learning platform, sama seperti kalian para Programmer ada satu titik antusias dimana ketika kita berada di titik tersebut kita merasa semangat mengerjakannya.

1 bulan menuju 2 bulan ternyata saya tidak siap berada di sana, saya merasa pace dalam pengembangannya terlalu cepat, ditambah source code nya mernurut saya sangat messy. Saya sering mengalami gangguan tidur karena memikirkan tekanan bekerja di sana. Bukan, bukan tekanan yang datang dari atasan, tapi tekanan dari dalam diri saya sendiri.

Saya tidak ada masalah dengan perorangan di sana, bahkan menurut saya orang-orang di sana sangat baik dan suportif. Tapi pada titik tertentu saya merasa tertekan. Kurang tidur, tidak enak makan, tidak menikmati akhir pekan.

Sampai puncaknya di pertengahan bulan ke-2 (Juli) saya drop dan terjangkit Covid 19. Tentu saja saya tidak bisa menyalahkan pekerjaan saya karena terjangkit, tapi sedikit banyak, kurang tidur mempengaruhi imunitas saya.

Sampai pada kesimpulan, ternyata di usia sekarang, saya sudah tidak cocok lagi berada di situasi kerja yang memiliki pace cepat seperti kebanyakan perusahaan rintisan lain di luar sana.

Ternyata saya tidak sesuai dengan ekspektasi saya sebelum bergabung. Ternyata saya tidak se-enejik itu untuk belajar dengan menghadapi tantangan baru.

Ya, saya lah yang tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Bukan perusahaan rintisan Singapura tersebut. Saya mengira saya cukup enerjik, saya cukup antusias dan saya cukup memilki persistensi berada di perusahaan yang menuntu pace cepat. Tapi kenyataanya tidak.

Transisi Resign (Lagi) dan CLBK

https://unsplash.com/photos/2ijG4R_tOfE

Saya mengirim email ke atasan saya di perusahaan lama. Awalnya hanya menanyakan kabar, menanyakan keadaan tim. Lalu dibalas oleh atasan saya tersebut, sebut saja namanya mr. J, beliau menanyakan bagaimana pekerjaan saya yang baru. Lalu saya jawab bahwa tidak sesuai dengan ekpektasi saya.

Dia memberikan informasi kepada saya, kapanpun ingin kembali ke perusahaan lama, silakan hubungi dia. Dan langsung saja saya balas Ya, saya ingin balik.

Di satu sisi tim lama saya juga masih belum menemukan pengganti saya. Jadi bisa dibilang kesempatan ini adalah win-win-solution bagi tim lama dan bagi saya sendiri.

Singkat cerita, saya deal dan resmi mendapatkan offer baru dari perusahaan lama, dan terkejutlah saya offer baru tersebut ternyata lebih baik dari gaji yang ditawarkan perushaan baru saya.

Singkat cerita saya memutuskan menghubungi mr. I via slack bahwa saya ingin Resign. Dia langsung membalas saya dan ingin melakukan percakapan suara besoknya. Oke, saya bilang Ya.

Saya jelaskan bla bla bla, kenapa saya memutuskan untuk resign, beliau sempat menawarkan beberapa hal mulai dari libur, kenaikan gaji, sampai saya disuruh menyebutkan sendiri. Lalu saya jawab “It’s not about money, it’s about matching”.

Intinya saya sampaikan bahwa saya benar-benar tidak ada masalah secara personal dengan siapapun di perusahaan tersebut, ini murni soal kecocokan saya terhadap perusahaan itu dan bagaimana alur pekerjaannya bagi kehidupan saya.

Lalu beliau menyetuji, dan mengatakan kepada saya, kapanpun saya ingin balik, silakan hubungi mereka lagi.

Sampai hari terakhir saya di sana, saya masih menjalin hubungan baik dengan beliau maupun dengan teman-teman di sana.

Sebelum hari pertama saya di perusahaan lama. Saya sempat beberapa kali menguhubungi teman-teman lama saya dan sempat juga melakukan obrolan daring melalui zoom. Mereka menyambut baik dengan tentu saja dengan bully-an dan ejekan-ejekan ala teman.

Mereka menanyakan kenapa saya balik, lalu saya jelaskan seperti yang saya tulis di atas. Bagaimana prosesnya, dll.

Intinya, proses ini berjalan sangat smooth, sampai akhirnya tibalah onboaring 1st day saya di kantor lama.

Pelajaran

Sebuah proses yang menurut saya cukup unik. Saya sendiri sudah bekerja di 10 perusahaan berbeda, saya pernah tuliskan di sini. Dan bisa dibilang kantor saya saat ini adalah perusahaan yang paling peduli terhadap karyawan, at least yang pernah saya jalani.

Proses ini adalah bagian dari perjalanan dan saya tidak ada penyesalan sama sekali. Justru saya merasa bersyukur bisa mengalami ini semua, karena saya bisa belajar

Hal terpenting dalam proses ini semua adalah menjaga etika. Sebelum saya resign dari kantor lama, saya masih bertanggung jawab hingga akhir terhadap pekerjaan pekerjaan saya. Saya sampaikan ke pada kolega bahwa saya akan tetap profesional bahkan di sprint terakhir.

Saya juga berterimakasih kepada teman-teman saya di sana, termasuk terimakasih berkat di tim tersebut saya bisa lulus kuliah. Berkat support mereka yang tidak pernah mengusik ketika saya harus kekampus di jam kerja.

Saya juga masih berkomunikasi dengan mr. J bahkan setelah resign, memang saya yang butuh beliau, saya meminta nasihat beliau soal pengembangan diri.

Terakhir di tempat baru pun saya masih bertanggung jawab sampai hari terakhir dan menjalin hubungan baik kepada semua kolega di sana. Hingga atasan saya mr. I pun masih sempat memberikan pernyataan kapanpun saya ingin kembali, beliau mempersilahkan.

Selama 3 bulan lebih saya berada di perusahaan rintisan Singapura tersebut, saya merasa memiliki kepercayaan diri berbahasa Inggri lebih baik karena bahasa sehari hari kami adalah bahasa Inggris.

Saya menjadi lebih menghargai waktu semenjak balik ke kantor lama. Dimana sebelumnya saya kekurangan waktu dan ketika waktu saya mulai stabil saya mulai lebih disiplin.

Saya bekerja sesuai jam kantor. Untuk istrirahat pun saya juga disiplin. Tidak membuka Laptop kantor di akhir pekan, kecuali kebutuhan mendesak.

“Nyesel kan udah cabut, makanya udah stay aja” mungkin ada ejekan kaya gini jika tidak saya jelaskan situasinya. Tapi jika saya jelaskan situasinya bahwa saya sudah memuaskan hasrat penasaran saya ditambah offer baru yang lebih baik, maka apa yang saya lakukan sama sekali tidak ada penyesalan.

Setelah “Cuti 4 bulan” saya merasa memilki pikiran yang lebih fresh, lebih menghargai dan lebih menikmati pekerjaan yang sebenernya pekerjaan lama bagi saya.

Saya tidak tahu apakah perasaan ini hadir karena saya telah break 4 bulan atau karena saya mendapatkan offer yang lebih baik, atau mungkin saja karena keduanya. haha 😂

Dari tulisan di atas dan penjabaran tentang pelajaran yang saya tuliskan, hal terpenting yang dapat saya simpulkan dalam tulisan ini adalah: Jaga atittude dan Jangan takut buat nyoba kalau emang beneran penasaran.

Sekian 😊

Konek dengan saya, di:

Nobody