Cerita Resign untuk Melambat

khir tahun lalu ketika salah satu kolegaku di tim memutuskan untuk resign ada yang tanya kenapa dia resign, mau pindah kemana, dst. Jawabannya biasa aja tapi cukup membekas di pikiranku hingga sekarang.

Kira-kira begini (tidak sama plek tapi intisarinya aja):

"Gue pengen melambat, ibaratnya kalau kita lagi lari maju terus kan fokus ngeliat kedepan tapi enggak peduli sama sekitar, nhaah gue pengen melambat, beneran gak kemana-mana.”

**maksudnya kemana-mana adalah pindah kantor, dimana saat ini emang lagi banyak millennials kutu loncat terutama di sirkel startup.

Kebanyakan orang terutama millennials resign adalah untuk peluang baru entah itu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, pekerjaan di role yang berbeda atau membangun bisnis sendiri.

Resign untuk tujuan melambat atau sebut saja istirahat ini malah gak ada di benakku, barulah ketika temanku tadi mengungkapkan aku terpikir hingga membekas.

Semakin kesini semakin merasa bahwa dunia ini (dunia modern yang aku jalani ini) memang cukup melelahkan, melelahkan dalam hal batin dan pikiran.

Jadi apakah kalian juga merasakan kelelahan yang aku maksud dan berniat untuk melambat atau berhenti sejenak?

Aku menemukan sebuah program yang sangat menarik jika ada diantara kalian yang berniat untuk melambat. Kalian bisa klik tautan berikut : http://www.daaruttauhiid.org/program/dauroh-qolbiyah/

Pythonistas

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store